Revolusi Mental dalam Bersosial Media


Blogging, Lifestyle / Kamis, Juli 27th, 2017
Gerakan
Nasional Revolusi Mental (GNRM)

Kementerian Kominfo bersama KemenDikBud dan Kementerian
Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia,
bekerja sama dengan Relawan TIK Lampung menggelar acara “Sosialisasi Gerakan
Nasional Revolusi Mental (GNRM) melalui Media Sosial”
. Acara tersebut diselenggarakan
di berbagai daerah di Indonesia dan diselenggarakan di Lampung pada Selasa, 25
Juli 2017 di Hotel Horison Bandar Lampung. Acara dibagi menjadi dua sesi, sesi
pertama pada pukul 17.30 – 19.00 WIB, ditujukan untuk kalangan pelajar yakni
siswa-siswi SMA. Sesi kedua, pada pukul 19.00 – 21.00 WIB, diperuntukan untuk
kalangan pengguna media sosial atau netizen secara umum. Acara tersebut membahas
bagaimana aksi nyata gerakan revolusi mental dalam penggunaan media sosial.
Saat ini telah terjadi fenomena yang mencengangkan di media
sosial. Berbagai kasus penipuan, saling hujat, bullying, sampai
pornografi. Revolusi Mental kini menjadi sebuah kebutuhan untuk melawan
derasnya laju zaman dan pesatnya teknologi. Jangan sampai zaman yang semakin
canggih malah membuat kita lalai dan lupa dari norma-norma yang ada. Untuk itu,
acara ini diselenggarakan dengan tujuan, masyarakat Indonesia memahami makna
revolusi mental dalam aksi nyata dan dapat mengambil langkah bijak dalam bersosial
media.
Rifki Indrawan (Relawan TIK)
Bpk. Fajar Isnawan (Kesbangpol)
Bang Rifki
Indrawan, selaku Relawan TIK Lampung yang hadir dan ikut mengisi acara tersebut
menuturkan, bahwa saat ini internet sudah hampir ‘dikuasai’ oleh pornografi,
media sosial bukan lagi tempat berbagi informasi dan kebaikan tetapi ranah
untuk bangga diri dan penindasan. Bapak Fajar Isnawan dari pihak
Kesbangpol juga menuturkan, bahwa Revolusi Mental harus kian digalakkan, mulai
dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Terutama untuk masyarakat
Lampung, Revolusi Mental melalui media sosial seharusnya diaplikasikan oleh masyarakat
Lampung dengan membagi potensi-potensi yang ada di Lampung dan membuat citra
Provinsi Lampung menjadi lebih baik. Pak Said Hasibuan memaparkan tujuan dari
revolusi mental dan nilai-nilai yang akan dicapai. Dan berharap kepada Netizen
Lampung untuk terus membagi konten-konten yang positif.
Sejatinya, media
sosial dibuat untuk memudahkan kita berbagi informasi dan kebaikan, namun tidak
dapat dipungkiri media sosial memiliki efek samping bagi penggunanya, antara
lain dalam bidang pendidikan, pelajar yang sebelumnya mencari informasi lewat
buku kini lebih memilih untuk bertanya lewat mesin pencarian. Dalam bidang
sosial-ekonomi, masyarakat yang dulu harus pergi ke pasar untuk berbelanja,
kini memilih untuk berbelanja online sehingga berkurangnya interaksi dengan orang lain. Oleh karena itu, bijaklah bersosial media.
Akhir kata, saya
tutup dengan jargonnya Bang Rifki, “Orang waras gak boleh ngalah” karena kalau
semua orang waras ngalah, maka dunia dikuasai oleh orang gila. Jangan sampai
media sosial dikuasai oleh konten yang buruk hanya karena orang waras tidak mau
membagi konten yang baik. Ayo Berubah Netizen Lampung.

Semoga
bermanfaat.