Review Novel ‘13 Reasons Why’ By Jay Asher, 13 Alasan Di Balik Tragedi Bunuh Diri Seorang Remaja


Book, Hobby, Review / Senin, Agustus 6th, 2018

Desy Listhiana A – Haiiiiiii, Temans. Kali ini saya mau Review Novel ‘13 Reasons Why’ By Jay Asher, yang novelnya saya beli bulan lalu. Ada banyak kejutan ketika saya baca novel ini. Dan sebenarnya, sangat disayangkan, karena saya lebih dulu nonton serialnya ketimbang novelnya. Huh.

Adakah dari kalian yang sudah baca Novel ‘13 Reasons Why’ karya Jay Asher? Mudah-mudahan kalian udah baca, ya. Biar gak spoiler, hehe.

Jay Asher Menciptakan Karakter Yang Memikat di Novel ’13 Reasons Why’, Cerita Yang Cukup Berat Tapi Dikemas Sederhana

jay-asher-13-reasons-why
sumber: Google

Jay Asher adalah penulis asal Amerika. Novel ‘13 Reasons Why’ adalah novel perdananya. Sebenarnya novel ini sudah terbit sejak tahun 2007 dan terus menjadi perbincangan di kalangan remaja (karena memang novelnya bercerita tentang kehidupan remaja – anak SMA).

Walaupun berkisah tentang seorang yang depresi lalu bunuh diri, Jay Asher tetap berhasil mengemas Novel ’13 Reasons Why’ dengan cerita sederhana dan mudah dipahami.

Novel ini dinobatkan sebagai The Best-Selling Young-Adult Fiction Novel oleh New York Times.

Dan akhirnya pada tahun 2017, Novel ‘13 Reasons Why’ diadaptasi jadi sebuah serial oleh Netflix dengan judul yang sama dan dengan total 13 episode. Mendulang sukses dan respon yang beragam dari penontonnya, akhirnya Netflix membuat season 2 dari serial ini pada April 2018, kemarin.

Karena menonton serial inilah, saya akhirnya memutuskan untuk membeli novelnya. Dan beruntungnya, Novel ‘13 Reasons Why’ diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Spring yang terbit pada Mei 2018 kemarin.

Novel ‘13 Reasons Why’ adalah novel yang berkisah tentang seorang remaja (anak SMA) perempuan bernama Hannah Baker yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Gak ada yang tahu persis apa masalah yang dialami oleh Hannah Baker. Sampai suatu ketika, muncul 7 kaset berisi rekaman suara (dibuat sendiri oleh Hannah), berisi runtutan peristiwa yang menjadi alasan ia bunuh diri.

Sayang banget, aku harus nonton seriesnya terlebih dahulu ketimbang bukunya 😷 . 13 Reasons Why by @jayasher13 versi Bahasa Indonesia baru terbit May 2018 🙁 . Banyak kejutan pas baca buku ini di bab-bab awal. Salah satunya karena beberapa plot yang berbeda dari seriesnya. . Tapi, bagaimanapun, Jay Asher telah membawa emosi pembaca naik-turun, terutama dengan berbagai karakter yang diciptakan Jay. . Jay sangat jujur ketika menulis ini. Ia memaparkan hal-hal kecil dan sederhana -terlihat tidak penting-, namun ternyata punya dampak yang besar. . "Segala sesuatu memengaruhi segalanya" termasuk sikap kita terhadap orang lain. . Buku ini, cerita ini, mengajarkan kita untuk lebih peduli satu sama lain. Sapaan 'Hai, gimana kabarmu?' bagi sebagian orang terasa basa-basi, tapi bagi sebagian yang lain, itu sangat penting. . Banyak banget yang mau dibahas dari buku ini. Dan gak bakal cukup kalau ditulis di sini 😂 lanjut di blog yaaaaa 🙏 #jayasher #13reasonswhy #hannahbaker #clayjensen #katherinelangford #dylanminnette

A post shared by Desy LA (@desylisthianaa) on

Ketika di bab-bab awal Novel ‘13 Reasons Why’, saya agak terkejut dengan alur cerita yang sedikit berbeda dari serialnya. Beberapa karakter juga tidak diceritakan secara detail seperti dalam serialnya.

Walaupun gak detail dan gak banyak membahas latar belakang kehidupan tiap karakter, menurutku Jay Asher tetap sukses mempertahankan karakter para tokohnya di berbagai peristiwa dalam Novel ‘13 Reasons Why’.

Dari karakter Hannah Baker yang sensitif dan agak pesimis. Clay Jensen yang gugup dan kaku. Sampai Bryce Walker yang arogan. Semua mendapat porsi yang sesuai di Novel ‘13 Reasons Why’ ini.

“Characters is plots.” – lupa ini quote siapa (haha)

Sepertinya Jay Asher sangat menerapkan hal itu dalam menulis Novel ‘13 Reasons Why’. Dan menurutku, itu sangat berhasil. Jujur, saya baca novel ini gak sampai dua hari. Dan cukup sukses mengaduk-aduk emosi. Huhu.

Bunuh Diri (sama sekali) Bukan Pilihan, Tapi Mengapa Hannah Baker Punya Alasan di Novel ‘13 Reasons Why’?

review-novel-hannah-baker
sumber : Google

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, novel ini gak detail menceritakan setiap karakter. Menurutku, dalam Novel ‘13 Reasons Why’, Jay Asher lebih terfokus pada sosok Hannah Baker dan Clay Jensen.

Mungkin salah satunya karena sudut pandang dalam novel ini ada dua, yakni memakai sudut pandang Hannah dan Clay secara bersamaan.

Sudut pandang Hannah tentu saja tercipta karena dia bercerita tentang dirinya lewat kaset-kaset itu. Dan sudut pandang Clay Jensen dipakai karena dialah yang dipilih oleh Jay sebagai karakter yang mendengarkan rekaman tersebut.

Oke, let’s talk about suicide.

Bunuh diri tentu saja bukan pilihan. Bagaimana pun keadaannya, menurutku, tindakan bunuh diri gak bisa dibenarkan. Tapi kenapa hal itu terjadi pada Hannah Baker di Novel ‘13 Reasons Why’? Dan kenapa Hannah Baker sampai punya 13 alasan untuk melakukan bunuh diri?

Seperti yang udah saya bilang di atas, Hannah Baker adalah sosok remaja yang sensitif atau bisa dikatakan ‘baperan’. Setiap peristiwa yang dia lalui, selalu menjadi peristiwa yang gak menguntungkan bagi dia. Dan itu membuatnya depresi. Seolah-olah apa yang dia lakukan gak pernah tepat.

review-13-reasons-why

Karakter-karakter yang diciptakan Jay Asher di Novel ‘13 Reasons Why’ mengalami benturan satu sama lain, termasuk dengan karakter Hannah Baker.

Jay Asher sangat jujur ketika menulis ini. Sehingga benturan-benturan itu tampak alami dan membuat kita beranggapan, “Ah, ini mah wajar terjadi di kalangan remaja.”

Tapi, Hannah Baker dengan karakternya yang sensitif, (sangat mungkin) merasa sebagai pihak yang selalu apes dan terluka.

Ditambah lagi dengan orang-orang di sekitarnya yang gak cukup peduli satu sama lain. Meremehkan tindakan bullying dan membiarkan hal-hal itu terjadi seolah-olah itu adalah hal biasa. It’s really wrong!

Satu pesan yang sangat ngena ketika baca Novel ‘13 Reasons Why’ adalah kita harus mengubah sikap satu sama lain. Harus lebih peduli dan tunjukkan rasa peduli itu. Tetap berpikir positif dan optimis.

“We must be better with each other, because you never know how what you do will affect someone else.” – Novel ‘13 Reasons Why’

Oke, sekian Review Novel ‘13 Reasons Why’ dari www.desylisthiana.com. Maafkan kalau banyak salah kata dalam review ini. Yuk, diskusikan pendapat kalian tentang novel ini di kolom komentar.

2 Replies to “Review Novel ‘13 Reasons Why’ By Jay Asher, 13 Alasan Di Balik Tragedi Bunuh Diri Seorang Remaja”

  1. Aku jg nonton ini seriesnya mbak, ternyata diadopsi dari novel ya?
    Keren sih dan cerita tragisnya sampe banget. Mirisnya kehidupan hana.
    Btw emang sih ya klo baca bukunya pasti bakal lebih lengkap ceritanya. Dapet di gramed itu mbak?

    1. Halooo Mbak Anggun 🙂
      Iya mbak diadopsi dari novel. Sebenernya endingnya agak beda sih antara novel dan seriesnya.
      Iya aku dapat di grameD, cusSSSs langsung dibeli Mbak biar gak penasaran 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.