Perlukah Disensor Sebelum Ditonton? Begini Penjelasan Lembaga Sensor Film


Blogging, Movie / Kamis, Oktober 18th, 2018

DESY LISTHIANA A – Tabik Pun… Siapa Teman-Teman Pembaca di sini yang suka nonton? Baik di televisi, bioskop, atau sekedar nonton video di aplikasi online seperti youtube? Jujur, sih, saya adalah salah satu orang yang suka nonton film. Tapi nggak sering ke bioskop, biasanya nonton online atau nunggu tayang di televisi.

Tapi pertanyaannya, sudahkah kita sensor tontonan secara mandiri? Yakni secara sadar memilah dan memilih tontonan yang layak?

Lembaga Sensor Film Ajak Masyarakat Lampung Lebih Cerdas Memilah Tontonan

lembaga-sensor-film-tapis-blogger

Minggu kemarin, saya datang ke acara Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri yang diadakan Lembaga Sensor Film (LSF) bersama Tapis Blogger. Acaranya di G Ummati Cafe di Jalan ZA. Pagar Alam, Kedaton, Bandarlampung. Sekitar 100 peserta hadir secara antusias ke acara tersebut, termasuk saya.

100 peserta itu dari berbagai kalangan, ada blogger dan media, ada mahasiswa, dosen, bahkan ibu-ibu muda. Acara berjalan lancar sejak pagi sampai dzuhur.

Sama seperti peserta lain, saya (yang ngakunya pecinta film ini) merasa perlu untuk mengetahui cara menjadi pecinta film yang baik. Dan sedikit banyak pengen tahu kondisi perfilman, khususnya film-film Indonesia.

lembaga-sensor-film-tapis-blogger
Pict by www.mantuidaman.com

Pihak LSF yang diwakili oleh Mbak Ni Luh Putu Elly menjelaskan bahwa kegiatan sensor mandiri sangat penting mengingat perkembangan dan perubahan teknologi. Alat komunikasi manusia terus berubah dan semakin canggih.

Kalau dulu berkirim kabar lewat surat dan harus menunggu berhari-hari untuk sampai ke tujuan, kini hanya sekali ‘klik’ … udah bisa ngobrol banyak.

Tapi perubahan dan perkembangan teknologi yang semakin canggih itu ada akibatnya Yay Atu, antara lain:

1. Dapat berinteraksi dengan mudah dan cepat, seperti yang sudah dijelaskan di atas.
2. Semua orang bisa membuat dan mengisi konten di media massa. Misalnya, sekarang pengguna media sosial sudah jutaan, maka jutaan orang punya kesempatan untuk membuat konten. Dan tidak semuanya dapat membuat dan mengisi konten dengan positif.
3. Semua orang punya kebebasan untuk mengontrol kapan, dimana, dan bagaimana mereka mengakses informasi.
Akibatnya tidak semua orang mendapat konten yang positif, misalnya aja termakan hoax. Atau termakan skenario hoax yang hoax. Halaah ribet…

Lah terus, apa kaitannya dengan sensor mandiri?

Kebebasan mengisi konten dan mengakses informasi itu harus diimbangi dengan kesadaran diri. Kita bisa mengakses berita, film, ataupun video apa saja, kapan saja, dan dimana saja, jadi penting banget menyadarkan diri untuk memilih dan memilah tontonan.

Apalagi, nih, yang punya anak, adik, atau saudara yang masih kecil. Bahaya banget kalau mereka dibiarkan mengakses informasi melalui smartphone (yang bersatu dengan kuota unlimited) tanpa kontrol dari orang tua.

Gimana sih cara memilah dan memilih tontonan yang layak dan baik? Coba tanyakan dulu ke diri kita sebelum menonton.

1. Apakah film atau acara di televisi sudah sesuai dengan umur? Kalau saya nonton film anak-anak sih nggak masalah yaaa hehehe, tapi kalau sebaliknya?
2. Film atau acara televisi tersebut temanya apa?
3. Bagaimana gambar, adegan, dialog, dan suara dalam film? Penting nih kalau mau ajak anak, adik, atau saudara yang masih kecil nonton film di bioskop. Sebaiknya kita nonton dulu yaaa… Baru ajak anak-anak nonton kalau memang sesuai.
4. Apa pesan moral yang bisa diambil dari film itu? Nah ini. Ada beberapa film barat yang sudah saya tonton tapi nggak ngerti apa pesan moralnya. Yah, mungkin ada tapi sedikit banget kalau dibanding dengan adegan kekerasannya.

Setelah acara Sosialisasi Sensor Mandiri ini, saya sempat merenung sih (biasanya nggak pernah, haha). Ternyata banyak bangetpertimbangan dalam memilah dan memilih tontonan yang baik. Terutama untuk anak-anak.

Jadi, yuk sama-sama kita mulai budayakan sensor mandiri tontonan kita, dimulai dari rumah aja dulu. Disensor sebelum ditonton itu perlu (banget).

Peran Tapis Blogger Dalam Budaya Sensor Film Mandiri

tapis-blogger-lampung

Saya bersyukur banget bisa jadi bagian dari Tapis Blogger. Ketemu dengan orang-orang baik dan luas ilmu, serta nggak pernah berhenti untuk belajar. Salah satunya belajar men-sensor secara mandiri.

Kalau selama ini blogger dianggap sebagai buzzer dan penerima endorse aja, saya kurang setuju. Blogger juga harus bisa jadi influencer yang baik. Harus bisa menularkan virus baik di lingkungan keluarga, teman-teman, bahkan masyarakat sekitar.

Untuk itulah, Tapis Blogger dipercaya untuk ambil andil di acara Sosialisasi Sensor Mandiri bersama LSF. Jujur, menurutku itu tugas yang cukup berat. Tapi, Bismillah… namanya juga masih belajar, jadi mohon diingatkan hehe.

Nah, pas acara kemarin, Alhamdulillah… Tapis Blogger dapat support dari banyak pihak. Antara lain dari Forum Lingkar Pena Bandarlampung dan KOPFI Lampung. Dapat banyak sponsor dari pelaku usaha asli Lampung, antara lain:

1. Thasya Busana, yang menyediakan produk pakaian muslim khas Lampung
2. Perut Bulat Cafe & Resto
3. Keripik Pisang Aroma Sejati yang punya keripik renyah dan enaaak
4. Papa Toms Cafe
5. Al-Mitry Indo
6. Famedia Publisher
7. Dan tentu saja tempat makan asik, G Ummati Cafe.

#TapisBlogger #BloggerLampung #LSFXTAPISBLOGGER #BudayaSensorMandiri

10 Replies to “Perlukah Disensor Sebelum Ditonton? Begini Penjelasan Lembaga Sensor Film”

  1. Sensor mandiri akan membuat kita lebih aware dengan tontonan. Karena saat ini banyak film yang kurang edukatif

  2. Hal tersebut sering kami lakukan pada saat anak kami melihat tayangan di televisi, Kami selalu mengingatkan dan tidak jarang pula melarang pada saat acara yang bukan untuk usia anak-anak.

    Dan memang sangat disayangkan saat ini tayangan tayangan yang ada di televisi sedikit sekali yang mendidik.

    Kami sih lebih suka menyetel kan video di laptop yang bisa dikontrol sedangkan mengurangi dalam menghidupkan layar televisi.

    Oh iya sukses ya acaranya materi yang disampaikan seperti sangat bagus sekali.

  3. Alhamdulillah senang banget dapat berperan dalam memberikan sosialisasi budaya sensor mandiri demi generasi bangsa kita yang berakhlak mulia. Terima kasih Lembaga Sensor Film Republik Indonesia

  4. Memilih tontonan yg baik dimulai dari diri sendiri memang penting banget. Karena seringnya yg kita tonton itu akan membuat otak mengambil kesimpulan2. Jadi klo tontonan kita ga disaring. Bisa membuat kesimpulan yg kurang pas, trus tanpa sadar diterapkan dikehidupan sehari2.

  5. Sensor mandiri memang perlu banget ya meskipun sudah ada lembaga sensor film yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mensensor film dan acara yang tampil di televisi.
    Saya setuju banget dengan tulisan diatas. Sensor mandiri itu harus memilih dan memilah. Apalagi dengan genggaman smartphone kita dengan beragam informasi. Yg kadang informasi itu bisa saja tidak bermanfaat untuk kita. Terutama untuk anak anak kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.