Resensi Buku Hafidz Rumahan: Keluarga Penghuni Rumah di Kaki Surga


Book / Kamis, Maret 14th, 2019

resensi-buku-hafidz-rumahan

Judul        : Hafidz Rumahan

Penulis     : Neny Suswati

Penerbit   : Aura Publishing

Edisi         : Februari 2019

Tebal        : 200 Halaman

Harga       : Rp.65.000,-

Pernahkah Teman-teman melihat sebuah rumah yang berdinding papan, beratap seng, dengan pintu dan jendela sederhana, tanpa perabotan rumah tangga masa kini, serta tak tersentuh kemajuan teknologi? Mungkin pernah.

Tapi, bagaimana jika rumah mungil dan sederhana itu dihuni oleh satu keluarga dengan 8 anak, yang ketujuh anaknya telah khatam menghafal Al-Qur’an?

Ada sebuah keluarga yang memilih hidup sederhana, mengikuti Sunnah Rasulnya. Rela meninggalkan kesenangan duniawi untuk mengejar urusan surgawi. Inilah yang pertama kali menyentuh hati Neny Suswati untuk menuliskan kisah keluarga ini. Sayang rasanya jika kisah seindah ini tidak diabadikan.

Dengan pemikiran itu, akhirnya Buku Hafidz Rumahan tercipta. Buku yang bercerita tentang keluarga penghuni rumah di kaki Surga.

Anak Adalah Titipan dan Tanggung Jawab Besar

Memiliki anak-anak yang cerdas dan ceria adalah dambaan setiap orang tua. Memiliki prestasi akademik yang gemilang dan menguasai ilmu pengetahuan menjadi standar kecerdasan masa kini. Namun, tidak demikian dengan sepasang suami istri ini.

Bagi Ustadz Abdurrohim dan Siti Hajar, mendidik anak adalah tanggung jawab besar. Bukan di dunia ataupun di hadapan masyarakat, tetapi di akherat kelak di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla.

Untuk itulah, mereka mantap meninggalkan kesenangan yang ditawarkan dunia. Pekerjaan sebagai PNS ditinggalkan. Kemajuan teknologi dihindari. Abdurrohim fokus pada jalan dakwah. Sedangkan Siti Hajar bertekad kuat memegang prinsip Al-ummu madrasatul ula’, yang berarti ibu adalah sekolah pertama  (bagi anak-anaknya).

Bukan PAUD, TK, SD, dan lain-lain. Tetapi Ibu, di tangan seorang ibu-lah anak menerima pendidikan utama mereka. Seorang ibu akan membentuk jiwa dan karakter anak, sebagaimana pola asuhnya.

Mereka yakin bahwa pendidikan yang diajarkan Al-Qur’an dan Rasul adalah yang terbaik. Maka Abdurrohim dan Siti Hajar sepakat untuk mendidik 9 (Sembilan) anaknya sesuai perintah Alquran dan sunnah Rasul. Satu anaknya meninggal ketika umur 1 tahun. Kini tinggal 8 anak dan 7 dari mereka sudah menjadi Hafidz Qur’an di umur 5-12 tahun.

Tidak Ada Tips Menghafal Al-Qur’an

Buku Hafidz Rumahan karya Neny Suswati tidak memberikan kiat-kiat dalam menghafal Al-Qur’an. Tetapi lebih menekankan pada pola asuh yang seharusnya diberikan orang tua untuk anaknya. Sebagai orang tua, Abdurrohim dan Siti Hajar sadar bahwa mereka harus terus belajar dan berproses.

Ketika orang tua mengajak anak untuk mencintai Al-Qur’an, maka orang tua juga harus berkomitmen untuk mencintai Al-Qur’an.

Buku ini memberi udara segar di tengah kehidupan masa kini yang hingar-bingar. Memberikan bayangan jalan setapak menuju Surga. Jalanan yang pasti berliku dan sulit ditempuh. Namun, bukankah membayangkan dapat mencium aromanya saja sudah membuat kita banjir air mata?

Abdurrohim dan Siti Hajar bukan seorang hafidz dan hafidzah. Bukan juga orang yang tinggi ilmu agamanya. Namun, keyakinan pada Allah dan sifat tawadhu untuk terus belajar sudah menjadi modal bagi kehidupan keluarga ini. Sebuah keluarga yang menghuni rumah di kaki Surga.

*Desy LA

2 Replies to “Resensi Buku Hafidz Rumahan: Keluarga Penghuni Rumah di Kaki Surga”

Comments are closed.